Madakaripura, Another Adventure of Baddockers

Ahhaaaayy……..Awal bulan ini, tepatnya tanggal 1 Agustus, lagi-lagi saia bersama Baddockers mengadakan liburan ke luar kota….Kali ini tujuan kami adalah Madakaripura….

Bagi yang belom tau, Madakaripura adalah sebuah tempat yang menyembunyikan keindahan dan keagungan Tuhan berupa beberapa air terjun yang bagi saia sangat-sangat memukau. Tersembunyi di balik licinnya batu kali, tajamnya batu karang, rimbunnya dedaunan, aliran air sungai dan tirai hujan serta tebing yang licin nan eksotis. Pun, katanyaaa, merupakan tempat bertapa dari Mahapatih Majapahit, Gajah Mada sehingga moksa….*yahuudd ahh,,si Mahapatih milih tempatnya*

Madakaripura terletak di Desa Sapih, Kecamatan Lombang, Probolinggo, Jatim. Dari arah Surabaya, kita bisa mengambil rute Surabaya-Porong-Pasuruan-Probolinggo. Setibanya di rumah makan Ayam Goreng Pak Sholeh di Tongas (setelah rumah makan Rawon Nguling), akan ada belokan ke kanan. Ambil belokan tersebut saja (ada papan penunjuk jalan juga ko), lalu terus ikuti jalan. Nanti akan menemukan papan-papan kecil bertuliskan “Madakaripura” sebagai penunjuk jalan….

Nah, kami ber-11, berkumpul di kampus A Unair, lalu berangkat pada pukul 5.45 WIB (cukup pagi, untuk menghindari kemacetan) dengan 2 buah mobil mampir Sidoarjo dulu karena harus menjemput seorang teman saia (FYI, BBM yang dibutuhkan untuk PP SBY-Probolinggo skitar Rp.100.000,00-Rp.150.000,00/mobil). Setiba di Pasuruan, mampirlah kami di sebuah warung makan karena perut kami keroncongan minta diisi…..

Setelah kenyang mengisi perut, kami pun melanjutkan perjalanan. Bersyukur karena jalanan relatif lancar, kami tiba di Madakaripura pukul 9.45 WIB. Di depan akan ada loket masuk, dimana petugas akan langung menghitung jumlah penumpang di dalam mobil. Biaya tiket masuk Rp.2.500,00/orang (sebaiknya serahkan saja uang pas), lalu biaya parkir Rp.4.000,00/mobil.

Setelah memarkir mobil, kami menyiapkan barang bawaan yang harus dibawa masuk ke lokasi, such as: kamera (pastinya!!), payung/jas hujan, sendal jepit anti-slip, tas plastik untuk melindungi kamera dan barang berharga lainnya agar tak basah. Barang bawaan lainnya, yaitu baju ganti, handphone lebih baik ditinggal di dalem mobil saja (karena ngga ada sinyal bo’, ketimbang basah). Lalu dengan memanfaatkan jasa guide yang tersedia disana dengan tarif Rp.30.000,00-Rp.100.000,00/rombongan, akhirnya petualangan pun dimulai…

Sebenarnya ni ya, dulu sebelom banjir bandang pada tahun 2006, tempat wisata ini memiliki track berupa jalan pavingan untuk pedestrian dari pelataran parkir hingga mendekati air terjun. Tapi sekarang sebagian tlah hancur, sehingga track nya berubah: jalan pavingan-sungai berbatu besar-jalan pavingan begitu seterusnya. Sebenarnya ngga masalah, karena pemandangan disana menyejukkan mata.
Bagi yang blom biasa berpetualang, saia sarankan anda menyiapkan kaki-kaki anda untuk menghadapi track disini. Jika tidak, anda akan mengalami apa yang dinamakan orang Jawa sebagai NJAREM!! Karena kita harus menunggangi kaki kita sejauh kira-kira 1,2 km, ditempuh selama 20-30 menit. Lumayan dengan medan yang terkadang harus membuat kita melompat, memanjat, menuruni, merayapi tembok, bahkan agak ngesot karena terlalu licinnya bebatuan yang dilalui!! Oiya, saia sarankan lagi, jika hendak mengunjungi Madakaripura, sebaiknya pada musim kemarau, karena jika pada musim hujan, selain medan akan lebih berbahaya (semakin licin dan arus sungai menjadi lebih deras), menurut guide, pada pukul 12.00 WIB, tempat ini akan ditutup bagi wisatawan, untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Jika sudah terjebak banjir di lokasi air terjun, maka nyawa loh taruhannya!!

Dan ini pula, beberapa pemandangan serta kebesaran Tuhan yang berhasil saia abadikan (walo sdikit nekat,mengorbankan kamera saia untuk berbasah-basahan…hee)

*Jangan lupa lagi lindungi kamera dan barang bawaan anda dengan jas hujan/payung/ masukkan tas plastik*

Sungguh, bukan seperti air terjun biasanya….Perasaan saia bercampur antara kagum, agak merinding, dan entah mengapa-sdikit mistis, hee…Terdapat 2 buah air terjun utama di dalam sebuah ruangan bentukan alam yang menyerupai sumur ato tabung (makanya,ngga lucu kalo, terjebak banjir disini). Air terjun ini tidak terlalu besar, tapi mengalir indah di tebing batu lalu disambut oleh air kolam nan hijau dengan harmoni yang asik untuk didengar (bukan nggerojok keras, seperti di Tawangmangu ato Kakek Bodo). Suara air jatuh nan lembut, diselingi suara berdebam agak keras jika debit air yang jatuh lebih besar. Sungguh senandung alam yang memukau….Subhanallah

Setelah puas bercengkrama, bermain air dan berfoto ria selama hampir 1,5 jam, kami memutuskan untuk kembali, karena kami sudah kuyup dan badan sudah bergetar hebat kedinginan….Track yang sama dengan sewaktu berangkat pun harus kami lalui untuk tiba ke parkiran….

Setibanya di sana, kami mengganti pakaian kami yang basah di dalam toilet yang tersedia di dekat parkiran (bersih, airnya pun menyegarkan). FYI, biar ngga kaget, mobil/motor kita akan dicuci oleh warga skitar yang ada disana tanpa diminta…Lalu mereka akan menarik biaya Rp.15.000,00/mobil (saia kurang tau untuk motor). Ada beberapa wisatawan yang jengkel karena hal ini. Tapi karena kami sudah tau, dan hanya mencoba membantu warga skitar menambah penghasilan, kami pun membayarnya….

Petualangan kali ini pun selese, jika anda ingin melanjutkan ke Bromo, silahkan, karena memang ngga terlalu jauh, skitar 6 km katanya (kami si ngga, karena waktu yang kami punyai terbatas, terlebih lagi duitnya cekak..wekekeke)..

Enjoy it everyone!!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.