Oleh: ratrihapsari | Juli 20, 2009

Ibu Pertiwiku Tercoreng (lagi) Wajahnya

Entah sudah untuk keberapa kalinya…

Ibu Pertiwiku tercoreng wajahnya…

Kali ini, lagi-lagi, oleh ulah mahkluk keji tak bernurani

Anak durhaka, yang tega membunuh saudaranya sendiri, putra-putri Ibu Pertiwi….


Entah apa yang ingin mereka minta dari Ibu Pertiwi…

Entah apa yang ingin mereka lakukan terhadap Ibu Pertiwi…

Tak henti-henti menebar teror di sana-sini…

Berharap tujuan “mulia” mereka tercapai….


Di saat Ibu sedang mendapat sorotan mata dunia…

Atas citra baik yang telah susah payah disandangnya kembali…

Anak-anak durhaka itu pun lalu ingin unjuk diri…

Menyelinap dan menikam Ibu dari balik punggungnya…


Di pagi hari yang seharusnya dipenuhi dengan berbagai asa…

Mereka mencabik tubuh putra-putri serta tamu Ibu Pertiwi yang tak berdosa..

Meluluhlantakkan harga diri Ibu Pertiwiku seketika, sekejap mata…

Menyeringai puas di atas derita saudara-saudaranya…


Entah mereka pernah berpikir atau tidak tentang ini…

Tentang hidup saudaranya, hidup keluarga saudaranya akibat perbuatannya…

Entah mereka pernah berpikir atau tidak tentang ini…

Seandainya dirinya dan keluarganya yang mengalaminya…


Anak-anak durhaka itu…

Apa yang membuat mereka merasa berhak melakukan itu…

Menumpahkan darah saudaranya dan para tamu Ibu..

Dengan aksi sok heroik namun biadab itu…


Pernah kudengar, perintah Tuhan dan dasar agama adalah dalih mereka….

Tuhan siapa, serta dasar agama mana yang memperbolehkan menyakiti sesama…?

Terlebih hingga membuat nyawa yang tak berdosa melayang sia-sia, padahal tak jelas apa dan siapa yang mereka bela…

Hanya iblis neraka yang mampu melakukan itu semua…


Di usianya yang semakin renta, Ibu Pertiwiku masih saja sering berduka…

Oleh berbagai peristiwa yang dilakukan oleh anak-anaknya yang nista

Sampai kapankah Ibu Pertiwiku harus terus menanggung lara…?

Hanya Tuhan yang tahu jawabnya…

-R A H-


nb:

“wahai anak-anak tak tahu malu…

jangan harap kami gentar karenamu…

kami tak mau ikuti maumu…

kami akan semakin kuat oleh itu…”


“wahai anak-anak durhaka…

bersiaplah menyongsong nerakamu….

yang telah dibalut iblis dengan aroma surga…

untuk semua perbuatanmu pada Ibu Pertiwiku…”


Beri tanggapan

Your response:

Kategori