Oleh: ratrihapsari | Januari 13, 2010

Pesona Tanjung Papuma, Membuatku Jatuh Cinta….

Daripada keburu kadaluawarsa, saia mo posting tentang travelling saia yang terakhir *maklum, sibuk, hee*

Liburan tahun baru kemaren (tanggal 1 dan 2 Januari) saia bersama kawan-kawan SMA saia ingin berlibur di sekitar Jawa Timur….Cari punya cari, usut punya usut, ketemulah dengan kawasan pantai yang cukup baru di Jember Selatan…Namanya Tanjung Papuma yang bersebelahan dengan pantai Watu Ulo…Papuma sendiri merupakan kepanjangan dari Pasir Putih Malikan…Memang,menurut pengamatan saia, Papuma ini punya pasir putih yang haluuus, dan malikan bertebaran (bebatuan yang bentuknya pipih di sepanjang pantai), pokoknya perpaduan yang unik, sesuai namanya…Tanjung Papuma terletak di Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, dan Wuluhan…Dari Surabaya memakan waktu skitar 5 jam naek kendaraan pribadi…

Pada tanggal 1 Januari, kami berangkat dari Surabaya menuju Jember skitar pukul 6.30WIB menggunakan mobil sewaan+sopir+bensin untuk 2 hari (biaya skitar 1,3juta)…Rutenya si seperti biasa, melewati Porong-Pasuruan-Probolinggo-Lumajang…Kami sempat berhenti sebentar untuk makan-pagi-setengah-siang dan menunaikan sholat Jumat sebelum masuk Jember…Sesampainya di Rambipuji, Jember, akan ada papan petunjuk menuju Watu Ulo, yang mengharuskan kita mengambil belokan ke kanan, lalu menempuh skitar 37 km menuju Tanjung Papuma, yah,,kira-kira memakan waktu sekitar 1 jam dari kita belok itu…. Akses ke Tanjung Papuma sekarang mudah, tidak perlu memutar lewat Watu Ulo (ditambah dikenakan tiket masuk double)…Sudah terbentang jalan beraspal yang dulunya hutan..Tapi hati-hati, jalannya tidak terlalu lebar untuk dilalui mobil, cukup menanjak, dan berkelok, apalagi kalo malam tidak ada penerangan…So, mending berangkat saat matahari masih bersinar aja de…Setibanya di depan loket pada pukul 14.30WIB, kami dikenakan biaya Rp. 5.000,00/orang dan Rp. 1.000,00/mobil (karena hari libur)….Begitu masuk, Naudzubillah,, penuuuh skali dengan manusia, tampaknya ada acara rutin tahun baruan….Kalo hari biasa mah sepiii…. Akhirnya dengan susah payah, kami mencari tempat parkir dan langsung menuju kantor Perum Perhutani untuk check-in (kami sudah booking penginapan di Papuma jauh-jauh hari)…Tarif penginapan yang dikelola Perum Perhutani ini ada dua, yaitu Rp.150.000,00 dan Rp.300.000,00/kamar. Fasilitasnya terdiri dari: single bed, televisi 14 inch, kamar mandi, AC…Yang membedakan keduanya adalah jumlah bed dan luas ruangan saja…Kami menyewa 2 kamar besar, karena long weekend kami dikenakan tarif Rp. 350.000,00/kamar…

Sesudah check-in dan bersih-bersih diri, kami berjalan-jalan di dekat pantai serta mencari makan untuk malam harinya…Wana wisata ini kan termasuk baru, dan masi belom dikelola seperti layaknya pantai Kuta ato Senggigi, dan pantai terkenal lainnya (itu sebabnya kami memilih berlibur disini,,masi cukup alami!!yang virgin emang lebih oke…heee), jadinya di sepanjang pantai utama, kami hanya menemukan belasan depot atau warung yang menjual seafood, terutama menu ikan bakar…Ada juga yang menjual bakso, mie instan, es degan, maupun kerajinan tangan dari laut (yang terakhir bukan untuk dimakan loh!!)…Setelah memilih satu warung dan memesan ikan segar, kami kembali malam harinya untuk menyantap ikan-ikan bernasib na’as tersebut…hee…Harganya cukup terjangkau ko…Ikan bakar siap santap cuma Rp.35.000,00-40.000,00/kg…Rasanya enak, pokoknya pinter-pinter aja milih ikannya. Harga minuman juga berkisar Rp. 2.000,00-4.000,00/gelas…Enaaaak banget,makan di warung tepi pantai ditemani semilir angin dan bermandikan cahaya bulan…ssssaaaahhh!!! *dangdut banget*

Sepulang makan, kenyang, kami maen Uno sampe larut, trus istirahat de… Keesokan paginya sesudah sholat subuh, skitar pukul 5.30, kami mulai treking, menyusuri pantai…..Sepanjang mata memandang, pantainya sepiii…..Bener-bener kliatan indahnya…Di pantai utama (pantai timur) pasirnya memang putih bersih, lautnya tampak biru-hijau, pertanda bersih dan dalam…Sesekali menjulang karang besar di tengah laut, indah tak bergeming didera debur ombak…Suaranya memukau, indah, namun ada kalanya bikin merinding…Ada beberapa karang besar yang bisa kita capai loh saat air laut sedang surut… Di pantai timur ini masih memungkinkan wisatawan untuk berenang di tepi laut, karena masih dominan pasirnya, tak terlalu banyak karangnya, tapi ombak cukup besar..Jadi, hati-hati saja… Setelah berbagai pose foto dicoba di pantai timur, kami bergerak ke pantai barat (jalan kaki tentu saja)..Sebelumnya kami naik dulu ke atas bukit melalui anak tangga yang tersedia, ternyata di puncak bukit juga ada semacam pendopo yang difungsikan oleh petugas sebagai menara. Perhutani menyebutnya “Sitihinggil”…Subhanallah, dari atas bukit, kita bisa melihat dua pantai sekaligus (timur dan barat)….Indah sekali, kaya di surga sebelah manaa gitu (kaya uda pernah mampir surga ajah)…Hamparan pantai tampak panjaaaang memutar dari atas bukit, masi alami, dengan deburan ombak yang menggelora khas laut selatan…Ini ni hasil rekam gambar saia…

Di pantai barat, ngga bisa dipake berenang sama skali, karena banyak batu-batu karang dan malikan yang tersebar sejak dari pantai hingga lautan, apalagi ombaknya lebih dahsyat…..Kalo mau nekad berenang, benjol-benjol ato masuk RS, ngga nanggung loh saia… Lelah berjalan-jalan, kami kembali ke peraduan sembari mencari ikan bakar lagi sebagai menu sarapan…Lebih ueenak ternyata kalo pagi, karena ikannya bener-bener masi segar….Nelayan biasanya memang kembali dari laut ketika subuh ato pagi hari….hmm Setelahnya, kami mandi, trus siap-siap pulang de…

Liburan kali ini,menyenangkan….Bisa berlibur di tempat yang belom terlalu diketahui orang banyak, masi alami, yang pasti tidak terlalu menguras kantong…Bener de, coba bandingkan jika kita berlibur ke Bali ato Lombok, padahal panorama yang didapat ngga jauh beda…bisa ko diadu….*kompor*

Hari ini, tepat tanggal 9 Desember, seluruh masyarakat dunia memperingati Hari Anti Korupsi, bahkan ada sebagian masyarakat kita yang menyebutnya sebagai Hari Raya untuk pemberantasan korupsi. Berbagai LSM, ormas, bahkan pejabat pemerintahan di daerah maupun pusat beramai-ramai menyampaikan kata- kata,retorika, bahkan mengadakan aksi damai dengan mengerahkan massa untuk menyerukan perang terhadap korupsi. Semua itu sah-sah saja, untuk mempersatukan seluruh elemen bangsa, dan masyarakat dunia untuk bersama-sama memberantas korupsi yang laksana gunung es (kan bersama lebih baik daripada sendiri??)….

Untuk bangsa kita sendiri, bangsa Indonesia, yang namanya korupsi sudah amat sangat mendarah daging sejak jaman kumpeni…Sudah layaknya budaya saja korupsi itu (kalo kata koruptor sih, “hari gini ngga korupsi?mati aje loe”)…Sebenarnya itulah pe-er besar kita untuk bersama-sama meruntuhkan gunung es tindak korupsi itu, bukan hanya membabat permukaan yang tampak saja, tapi hingga ke akar-akarnya (beraaaat sekali per-er nya)…Itulah mimpi kita semua (kecuali mimpi para koruptor, tentu saja).

Semua kata-kata, retorika bahkan aksi massa yang dilakukan untuk memperingati Hari Raya Anti-Korupsi tak akan ada artinya jikalau setelah ini kita tak kembali merenung, menggugah nurani masing-masing untuk menjauhi tindak korupsi apapun bentuknya.…Bukankah sedari kecil kita tahu, mengambil hak orang lain yang bukan milik kita merupakan pebuatan tercela (seperti yang biasa kita baca dan dengar di pelajaran agama dan pendidikan moral itu)?? Selain akan merugikan orang lain, buat apa sih kita menumpuk kekayaan yang tidak pada tempatnya?? Toh nantinya kekayaan itu, tak akan secuil pun kita bawa ke dalam liang lahat..Malaikat penanya kita di alam kubur pun tidak akan mempan kita suap dengan harta kita,apalagi harta hasil korupsi…(Kalo ngga percaya,cobain ajah, hee)..

Mungkin tanpa sadar, kita (termasuk saia) telah lakukan tindak korupsi, baik itu korupsi waktu, korupsi duit, ato apapun, dalam skala kecil. Bukannya saia sok suci, tapi itulah yang coba kita benahi dari diri kita masing-masing tentunya tetap dengan melakukan fungsi survaillance terhadap lingkungan dan tindak korupsi di sekitar kita…Biarlah untuk masalah sistem, yang mempunyai wewenang-lah yang mengaturnya…Bagi kita, rakyat jelata ini, cukup dengan menginstropeksi diri sendiri, untuk menjadi pribadi yang lebih baik…Seperti Aa’ Gym selalu, “mulai dari diri sendiri, mulai dari yang kecil, mulai dari sekarang

Selamat Hari Raya Anti-Korupsi, semoga mimpi-mimpi kita akan menjadi nyata….Amiinn

Hidup Indonesia Bebas Korupsi

Hari ini, tepat tanggal 9 Desember, seluruh masyarakat dunia memperingati Hari Anti Korupsi, bahkan ada sebagian masyarakat kita yang menyebutnya sebagai Hari Raya untuk pemberantasan korupsi. Berbagai LSM, ormas, bahkan pejabat pemerintahan di daerah maupun pusat beramai-ramai menyampaikan kata- kata,retorika, bahkan mengadakan aksi damai dengan mengerahkan massa untuk menyerukan perang terhadap korupsi. Semua itu sah-sah saja, untuk mempersatukan seluruh elemen bangsa, dan masyarakat dunia untuk bersama-sama memberantas korupsi yang laksana gunung es (kan bersama lebih baik daripada sendiri??)….

Untuk bangsa kita sendiri, bangsa Indonesia,yang namanya korupsi sudah amat sangat mendarah daging sejak jaman kumpeni…sudah layaknya budaya saja korupsi itu (kalo kata koruptor sih, “hari ini ga korupsi?mati aje loe”)…sebenarnya itulah pe-er besar kita untuk bersama-sama meruntuhkan gunung es tindak korupsi itu, bukan hanya membabat permukaan yang tampak saja, tapi hingga ke akar-akarnya (beraaaat sekali per-er nya)…itulah mimpi kita semua (kecuali mimpi para koruptor, tentu saja).

Semua kata-kata, retorika bahkan aksi massa yang dilakukan untuk memperingati Hari Raya Anti-Korupsi tak akan ada artinya jikalau setelah ini kita tak kembali merenung, menggugah nurani masing-masing untuk menjauhi tindak korupsi apapun bentuknya….Bukankah sedari kecil kita tahu, mengambil hak orang lain yang bukan milik kita merupakan pebuatan tercela (seperti yang biasa kita baca dan dengar di pelajaran agama dan pendidikan moral itu)?? selain merugikan orang lain, buat apa kita menumpuk kekayaan yang tidak pada tempatnya?? toh nantinya kekayaan itu, tak akan secuil pun kita bawa ke dalam liang lahat..malaikat penanya kita di alam kubur pun tidak akan mempan kita suap dengan harta kita,apalagi harta hasil korupsi…(kalo ga percaya,cobain aja)..

Mungkin tanpa sadar kita telah lakukan tindak korupsi, baik itu korupsi waktu, duit ato apapun, dalam skala kecil, itulah yang coba kita benahi dari diri kita masing-masing, tetapi tetap dengan melakukan fungsi survaillance terhadap tindak korupsi di sekitar kita…biarlah untuk masalah sistem, yang mempunyai wewenang lah yang mengaturnya…bagi kita, rakyat jelata ini, cukup menginstropeksi diri sendiri, untuk menjadi pribadi yang lebih baik…eperti kata Aa’ Gym, “mulai dari diri sendiri, mulai dari yang kecil, mulai dari sekarang”

Selamat Hari Raya Anti-Korupsi, semoga mimpi-mimpi kita akan menjadi nyata….amiinn

Hidup Indonesia Bebas Korupsi…

Oleh: ratrihapsari | Agustus 13, 2009

Madakaripura, Another Adventure of Baddockers

Ahhaaaayy……..Awal bulan ini, tepatnya tanggal 1 Agustus, lagi-lagi saia bersama Baddockers mengadakan liburan ke luar kota….Kali ini tujuan kami adalah Madakaripura….

Bagi yang belom tau, Madakaripura adalah sebuah tempat yang menyembunyikan keindahan dan keagungan Tuhan berupa beberapa air terjun yang bagi saia sangat-sangat memukau. Tersembunyi di balik licinnya batu kali, tajamnya batu karang, rimbunnya dedaunan, aliran air sungai dan tirai hujan serta tebing yang licin nan eksotis. Pun, katanyaaa, merupakan tempat bertapa dari Mahapatih Majapahit, Gajah Mada sehingga moksa….*yahuudd ahh,,si Mahapatih milih tempatnya*

Madakaripura terletak di Desa Sapih, Kecamatan Lombang, Probolinggo, Jatim. Dari arah Surabaya, kita bisa mengambil rute Surabaya-Porong-Pasuruan-Probolinggo. Setibanya di rumah makan Ayam Goreng Pak Sholeh di Tongas (setelah rumah makan Rawon Nguling), akan ada belokan ke kanan. Ambil belokan tersebut saja (ada papan penunjuk jalan juga ko), lalu terus ikuti jalan. Nanti akan menemukan papan-papan kecil bertuliskan “Madakaripura” sebagai penunjuk jalan….

Nah, kami ber-11, berkumpul di kampus A Unair, lalu berangkat pada pukul 5.45 WIB (cukup pagi, untuk menghindari kemacetan) dengan 2 buah mobil mampir Sidoarjo dulu karena harus menjemput seorang teman saia (FYI, BBM yang dibutuhkan untuk PP SBY-Probolinggo skitar Rp.100.000,00-Rp.150.000,00/mobil). Setiba di Pasuruan, mampirlah kami di sebuah warung makan karena perut kami keroncongan minta diisi…..

Setelah kenyang mengisi perut, kami pun melanjutkan perjalanan. Bersyukur karena jalanan relatif lancar, kami tiba di Madakaripura pukul 9.45 WIB. Di depan akan ada loket masuk, dimana petugas akan langung menghitung jumlah penumpang di dalam mobil. Biaya tiket masuk Rp.2.500,00/orang (sebaiknya serahkan saja uang pas), lalu biaya parkir Rp.4.000,00/mobil.

Setelah memarkir mobil, kami menyiapkan barang bawaan yang harus dibawa masuk ke lokasi, such as: kamera (pastinya!!), payung/jas hujan, sendal jepit anti-slip, tas plastik untuk melindungi kamera dan barang berharga lainnya agar tak basah. Barang bawaan lainnya, yaitu baju ganti, handphone lebih baik ditinggal di dalem mobil saja (karena ngga ada sinyal bo’, ketimbang basah). Lalu dengan memanfaatkan jasa guide yang tersedia disana dengan tarif Rp.30.000,00-Rp.100.000,00/rombongan, akhirnya petualangan pun dimulai…

Sebenarnya ni ya, dulu sebelom banjir bandang pada tahun 2006, tempat wisata ini memiliki track berupa jalan pavingan untuk pedestrian dari pelataran parkir hingga mendekati air terjun. Tapi sekarang sebagian tlah hancur, sehingga track nya berubah: jalan pavingan-sungai berbatu besar-jalan pavingan begitu seterusnya. Sebenarnya ngga masalah, karena pemandangan disana menyejukkan mata.
Bagi yang blom biasa berpetualang, saia sarankan anda menyiapkan kaki-kaki anda untuk menghadapi track disini. Jika tidak, anda akan mengalami apa yang dinamakan orang Jawa sebagai NJAREM!! Karena kita harus menunggangi kaki kita sejauh kira-kira 1,2 km, ditempuh selama 20-30 menit. Lumayan dengan medan yang terkadang harus membuat kita melompat, memanjat, menuruni, merayapi tembok, bahkan agak ngesot karena terlalu licinnya bebatuan yang dilalui!! Oiya, saia sarankan lagi, jika hendak mengunjungi Madakaripura, sebaiknya pada musim kemarau, karena jika pada musim hujan, selain medan akan lebih berbahaya (semakin licin dan arus sungai menjadi lebih deras), menurut guide, pada pukul 12.00 WIB, tempat ini akan ditutup bagi wisatawan, untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Jika sudah terjebak banjir di lokasi air terjun, maka nyawa loh taruhannya!!

Dan ini pula, beberapa pemandangan serta kebesaran Tuhan yang berhasil saia abadikan (walo sdikit nekat,mengorbankan kamera saia untuk berbasah-basahan…hee)

*Jangan lupa lagi lindungi kamera dan barang bawaan anda dengan jas hujan/payung/ masukkan tas plastik*

Sungguh, bukan seperti air terjun biasanya….Perasaan saia bercampur antara kagum, agak merinding, dan entah mengapa-sdikit mistis, hee…Terdapat 2 buah air terjun utama di dalam sebuah ruangan bentukan alam yang menyerupai sumur ato tabung (makanya,ngga lucu kalo, terjebak banjir disini). Air terjun ini tidak terlalu besar, tapi mengalir indah di tebing batu lalu disambut oleh air kolam nan hijau dengan harmoni yang asik untuk didengar (bukan nggerojok keras, seperti di Tawangmangu ato Kakek Bodo). Suara air jatuh nan lembut, diselingi suara berdebam agak keras jika debit air yang jatuh lebih besar. Sungguh senandung alam yang memukau….Subhanallah

Setelah puas bercengkrama, bermain air dan berfoto ria selama hampir 1,5 jam, kami memutuskan untuk kembali, karena kami sudah kuyup dan badan sudah bergetar hebat kedinginan….Track yang sama dengan sewaktu berangkat pun harus kami lalui untuk tiba ke parkiran….

Setibanya di sana, kami mengganti pakaian kami yang basah di dalam toilet yang tersedia di dekat parkiran (bersih, airnya pun menyegarkan). FYI, biar ngga kaget, mobil/motor kita akan dicuci oleh warga skitar yang ada disana tanpa diminta…Lalu mereka akan menarik biaya Rp.15.000,00/mobil (saia kurang tau untuk motor). Ada beberapa wisatawan yang jengkel karena hal ini. Tapi karena kami sudah tau, dan hanya mencoba membantu warga skitar menambah penghasilan, kami pun membayarnya….

Petualangan kali ini pun selese, jika anda ingin melanjutkan ke Bromo, silahkan, karena memang ngga terlalu jauh, skitar 6 km katanya (kami si ngga, karena waktu yang kami punyai terbatas, terlebih lagi duitnya cekak..wekekeke)..

Enjoy it everyone!!

Oleh: ratrihapsari | Agustus 8, 2009

Jatuh Cinta pada Surat Cinta Rendra

Adalah salah satu puisi kesukaan saia….


Surat Cinta


Kutulis surat ini

kala hujan gerimis

bagai bunyi tambur yang gaib,

Dan angin mendesah

mengeluh dan mendesah,

Wahai, dik Narti,

aku cinta kepadamu !



Kutulis surat ini

kala langit menangis

dan dua ekor belibis

bercintaan dalam kolam

bagai dua anak nakal

jenaka dan manis

mengibaskan ekor

serta menggetarkan bulu-bulunya,

Wahai, dik Narti,

kupinang kau menjadi istriku !



Kaki-kaki hujan yang runcing

menyentuhkan ujungnya di bumi,

Kaki-kaki cinta yang tegas

bagai logam berat gemerlapan

menempuh ke muka

dan tak kan kunjung diundurkan



Selusin malaikat

telah turun

di kala hujan gerimis

Di muka kaca jendela

mereka berkaca dan mencuci rambutnya

untuk ke pesta

Wahai, dik Narti

dengan pakaian pengantin yang anggun

bunga-bunga serta keris keramat

aku ingin membimbingmu ke altar

untuk dikawinkan

Aku melamarmu,

Kau tahu dari dulu:

tiada lebih buruk

dan tiada lebih baik

dari yang lain…

penyair dari kehidupan sehari-hari,

orang yang bermula dari kata

kata yang bermula dari

kehidupan, pikir dan rasa



Semangat kehidupan yang kuat

bagai berjuta-juta jarum alit

menusuki kulit langit:

kantong rejeki dan restu wingit

Lalu tumpahlah gerimis

Angin dan cinta

mendesah dalam gerimis.

Semangat cintaku yang kuta

batgai seribu tangan gaib

menyebarkan seribu jaring

menyergap hatimu

yang selalu tersenyum padaku



Engkau adalah putri duyung

tawananku

Putri duyung dengan

suara merdu lembut

bagai angin laut,

mendesahlah bagiku !

Angin mendesah

selalu mendesah

dengan ratapnya yang merdu.

Engkau adalah putri duyung

tergolek lemas

mengejap-ngejapkan matanya yang indah

dalam jaringku

Wahai, putri duyung,

aku menjaringmu

aku melamarmu



Kutulis surat ini

kala hujan gerimis

kerna langit

gadis manja dan manis

menangis minta mainan.

Dua anak lelaki nakal

bersenda gurau dalam selokan

dan langit iri melihatnya

Wahai, Dik Narti

kuingin dikau

menjadi ibu anak-anakku !

W.S. Rendra


Wanita mana yang tak tersentuh dilamar dengan sebuah Surat Cinta yang indah, lugas, nan tegas tanpa keraguan di dalamnya?

Saia saja sebagai wanita yang hanya membacanya-tidak ikut dilamar Rendra-sudah merasa tergetar dan “klepek-klepek”.


Ahh…..Baru 2 hari “si Burung Merak” terbang jauh, sudah merindu pula saia pada kepakannya….

Salam dan hormat saia untukmu wahai Burung Merak…

Kepakan sayapmu akan senantiasa menebar wangi di penjuru sanubari….


Oleh: ratrihapsari | Juli 20, 2009

Ibu Pertiwiku Tercoreng (lagi) Wajahnya

Entah sudah untuk keberapa kalinya…

Ibu Pertiwiku tercoreng wajahnya…

Kali ini, lagi-lagi, oleh ulah mahkluk keji tak bernurani

Anak durhaka, yang tega membunuh saudaranya sendiri, putra-putri Ibu Pertiwi….


Entah apa yang ingin mereka minta dari Ibu Pertiwi…

Entah apa yang ingin mereka lakukan terhadap Ibu Pertiwi…

Tak henti-henti menebar teror di sana-sini…

Berharap tujuan “mulia” mereka tercapai….


Di saat Ibu sedang mendapat sorotan mata dunia…

Atas citra baik yang telah susah payah disandangnya kembali…

Anak-anak durhaka itu pun lalu ingin unjuk diri…

Menyelinap dan menikam Ibu dari balik punggungnya…


Di pagi hari yang seharusnya dipenuhi dengan berbagai asa…

Mereka mencabik tubuh putra-putri serta tamu Ibu Pertiwi yang tak berdosa..

Meluluhlantakkan harga diri Ibu Pertiwiku seketika, sekejap mata…

Menyeringai puas di atas derita saudara-saudaranya…


Entah mereka pernah berpikir atau tidak tentang ini…

Tentang hidup saudaranya, hidup keluarga saudaranya akibat perbuatannya…

Entah mereka pernah berpikir atau tidak tentang ini…

Seandainya dirinya dan keluarganya yang mengalaminya…


Anak-anak durhaka itu…

Apa yang membuat mereka merasa berhak melakukan itu…

Menumpahkan darah saudaranya dan para tamu Ibu..

Dengan aksi sok heroik namun biadab itu…


Pernah kudengar, perintah Tuhan dan dasar agama adalah dalih mereka….

Tuhan siapa, serta dasar agama mana yang memperbolehkan menyakiti sesama…?

Terlebih hingga membuat nyawa yang tak berdosa melayang sia-sia, padahal tak jelas apa dan siapa yang mereka bela…

Hanya iblis neraka yang mampu melakukan itu semua…


Di usianya yang semakin renta, Ibu Pertiwiku masih saja sering berduka…

Oleh berbagai peristiwa yang dilakukan oleh anak-anaknya yang nista

Sampai kapankah Ibu Pertiwiku harus terus menanggung lara…?

Hanya Tuhan yang tahu jawabnya…

-R A H-


nb:

“wahai anak-anak tak tahu malu…

jangan harap kami gentar karenamu…

kami tak mau ikuti maumu…

kami akan semakin kuat oleh itu…”


“wahai anak-anak durhaka…

bersiaplah menyongsong nerakamu….

yang telah dibalut iblis dengan aroma surga…

untuk semua perbuatanmu pada Ibu Pertiwiku…”

Tulisan Sebelumnya »

Kategori